Langsung ke konten utama

[Bunda Salihah] : Identifikasi Masalah

Perkuliahan yang dibuka dengan proses identifikasi masalah membuat saya menilik perjalanan dalam setahun ke belakang.

Pertengahan 2020 adalah babak kehidupan baru yang mengubah kondisi, bermula dari proses resign yang menggantikan peran publik menjadi domestik, lalu bulan berikutnya berpindah tempat tinggal ke pinggiran kota yang tidak terakses oleh natura publik yang sebelumnya kami nikmati.

Tentu saya harus berbalik kesini untuk menegaskan apakah sebab akibat dari proses kehidupan itu sebagai masalah atau hanya sekedar proses adaptasi yang harus dinikmati.

Maka, saya ingin menjabarkannya secara terperinci.

1. Apakah kehilangan sebagian besar penghasilan adalah masalah buat saya?

2. Apakah kehilangan ritme kerja yang teratur, makan siang yang santai, diskusi pekerjaan yang menarik, akhirnya menjadi masalah buat saya?

3. Apakah kesulitan menikmati Natura publik (baca : nge- gofood) menjadi masalah bagi saya?

4. Apakah perubahan status Ibu Rumah Tangga menjadi masalah bagi saya?

5. Apakah tinggal di tempat yang sunyi, jauh dari keramaian, jauh dari pasar, jauh dari mall, gojek aja males kesini, semua itu menjadi masalah bagi saya?

Ternyata, semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah tidak, kecuali point kedua, terkadang saya masih merasa 'sunyi'. Beberapa lainnya malah saya anggap menjadi anugerah, saya justru bersyukur gak bisa gofood-an lagi karena skill memasak akhirnya jadi meningkat dan uang jajan aman terkendali 😅. Saya justru bersyukur tinggal di tempat terjauh dari Balikpapan ini karena saya bisa keliling kampung tanpa masker, bukan karena gak ada covid, tapi karena emang gak ketemu orang wkwk kalau pun ketemu jangankan jarak 1 meter jarak 10 meter pun bisa kami lakukan. Yah, bisa di bayangkan lahan perumahan yang mestinya bisa diisi 300+ rumah saat ini baru terisi sekitar 60rumah. Masih banyak lahan kosong yang bebas di eksplor.

Dari perenungan ini akhirnya saya kembali meyakinkan bahwa saya tidak memiliki permasalahan personal yang harus segera diatasi, kalaupun ada kesulitan kecil maka itu hanyalah sejumput duri yang mudah untuk disingkirkan. Hanya ganjalan yang segera kelar saat diperbincangkan dengan 'sahabat' di rumah. Bukan sebuah masalah besar yang akan memforsir banyak energi untuk menyelesaikannya.

Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata sikap menerima dan menambah porsi syukur adalah kuncinya. Menerima bahwa semua adalah takdir yang telah Allah tetapkan, dan menambah rasa syukur bahwa masih banyak orang-orang yang kondisinya masih di bawah kami. 

Kalau tidak ada masalah, jelas tidak mungkin. Karena sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap muslim akan menerima ujian. Seperti firman Allah : Apakah kamu akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji?

Kita kerap kali menganggap bahwa masalah adalah kesulitan, ujian adalah kesulitan. Padahal tidak. Kesulitan dan kesenangan, keduanya adalah masalah jika tidak berada dalam koridor keimanan.

Anak-anak yang sehat dan cerdas, adalah masalah jika ternyata mereka tidak Sholih dan Sholihah.

Harta yang berlimpah adalah masalah jika ternyata harta tersebut justru menjadi penyebab kita bermaksiat kepada Allah.

Luar biasa bukan, sepintas itu terlihat seperti tidak masalah padahal sebenarnya itu adalah masalah. Benar kan? Apakah punya anak cerdas itu masalah? Kita justru menganggap sebagai anugerah. Ehtapi, ternyata itu menjadi masalah jika kita tidak berupaya mengajaknya menjadi anak Sholih yang beriman.

Masalah adalah ujian, dan setiap orang beriman pasti akan diuji 💙

Dan sungguh beruntung menjadi orang beriman, ketika mereka diuji dengan kesulitan mereka bersabar. Ketika diuji dengan kenikmatan mereka bersyukur. Kemudian mereka mendapat pahala dari sabar dan syukurnya. Nikmatnya menjadi orang beriman 💚

Menulis ini membuat saya mengingat penuturan Ustadz Budi yang pernah saya dengar, bahwa setiap muslim itu harus galau. Dari kegalauan tersebutlah yang akan memetakan masalah dan menyelesaikannya. Yang kemudian menjadi cita-cita hidup. Seperti kegalauan Yusuf Sholahuddin Al Ayyubi melihat kondisi Palestin* yang terlepas dari tangan kaum muslimin. Kegalauan yang akhirnya menjadi misi hidup beliau, dan sejarah mencatat dengan tinta emas, bahwa beliau adalah pembebas Al Quds. 

Lalu, apa yang membuat saya galau? Apa yang membuat saya resah? Mempertanyakan itu bisa membantu saya menemukan big problem.  Setelah di ranah pribadi saya merasa tidak ada suatu hal yang dipermasalahkan, saya beranjak ke ranah keluarga, keluarga inti saja : anak-anak dan suami. Nah, di ranah keluarga yang kadang saya resahkan adalah tentang pendidikan anak-anak, kadang saya berpikir apakah saya sudah benar mendidik, mengapa saya kerap tidak sabar ketika mengajari anak-anak, pendidikan seperti apa yang baik diterapkan untuk anak. Terus terang, saya masih galau dengan calon sekolahnya anak-anak, ada yang diincer tapi biayanya Masya Allah, ada yang terjangkau tapi belum klop dengan metodenya. Pengennya dididik sendiri tapi sadar  diri dengan ilmu yang belum mumpumi.

Lalu di ranah sosial, permasalahannya adalah belum ada masjid yang berdiri di komplek perumahan hingga banyak anak-anak sekitar yang tidak mengaji, masjid terdekat yang menyelenggarakan TPA jaraknya lumayan jauh. 

Sehingga akhirnya saya mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

Personal : Belum ada permasalahan yang memerlukan energi besar untuk menyelesaikannya.

Keluarga : Trial and error dalam membersamai anak-anak, dalam proses menumbuhkan keimanan.

Sosial : Belum ada ruang belajar mengaji disekitar rumah.


Lalu saya putuskan saya akan fokus pada pengadaan kegiatan mengaji sebagai big problem saya, karena dengan fokus pada hal tersebut maka saya akan bisa menyelesaikan permasalahan lainnya : melakukan aktivitas untuk mengisi 'ruang hampa' sekaligus anak-anak bisa belajar bersama teman-teman sekitar.


Dan Alhamdulillah Selasa kemarin adalah pertemuan perdana anak-anak perumahan untuk mengaji di rumah yang Insya Allah akan terus terlaksana setiap Senin -  Jum'at sore. Sebenarnya ini baruu sangat permulaan sekali, karena saya pun masih berusaha menyusun jadwal belajar yang menarik minat anak-anak, sementara ini baru mengaji, membaca buku siroh, menghafal surat-surat pendek dan memuroja'ah hafalan.









#materi1

#ibupembaharu

#bundasalihah

#darirumahuntukdunia

#hexagoncity

#institutibuprofesional

#semestakaryauntukindonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Pecha Kucha Sesi 4

Tim yang hadir di sesi 4 pada tanggal 21 Maret 2022 1. Sitarasmi ( https://youtu.be/OUlBkV5l9bk ) Video pertama yang durasinya justru kurang 3 detik, yaitu 6 menit 37 detik. Point 8 untuk video. Pemaparan pesan jelas dan mudah dipahami, point 10. 2. Tomorrow ( https://youtu.be/FLUWMCjdYRE ) Durasi sesuai, baik setiap slide maupun secara keseluruhan. Point 10 untuk videonya. Disampaikan dengan bahasa yang runut, lugas dan jelas. Juga point 10 untuk Tomorrow. 3. Rubii ( https://youtu.be/DmTe6ed7xwY ) Durasi videonya 6 menit 52 detik, juga kelebihan dari Pecha Kucha yang seharusnya. Point 8 untuk videonya. Pesan dan informasi juga tersampaikan dengan jelas, akan lebih bagus jika pandangan tetap mengarah ke kamera. Point 8 untuk Rubii.

Renovasi 2023

Kegiatan yang sambung-menyambung memang, dimulai dari sunatan Az, kemudian acara syukuran dan berlanjut merenov rumah. Renov ini yang memang menyita waktu, dua pekan soalnya. Di tambah kudu nyuci rumah dan berbenahnya, capeknya alhamdulillah. Karena memang banyak yang dikerjakan, dimulai dari buat talangan air, keramik dapur, buat plafond dapur, mindahin pintu tengah, ganti tempat cuci baju dan keramik teras. Dan selama proses itu rumah udah berantakan banget, karena barang-barang di dapur dipindahin ke rumah tamu. Aku pun masak di ruang tamu, kulkas dan lemari piring di taro diruang belajar anak-anak. Jadi kita kebanyakan beraktivitas di kamar, karena di ruang lain pak tukang sering lalu lalang. Apalagi pas mindahin pintu, jadi ada tembok yang harus di bobok dan itu debuuuuu banget. Jadi selesai itu aku yang nguciian semua perkakas karena semuanya berdebu. Duh kebayang yang rumahnya kena semburan debu erupsi gunung yaa dan rasanya memang setidaknyaman itu. Pasir menuhin teras, dan kes...

Review Pecha Kucha Sesi 8

1. Rumah Bijak Digital (https: //youtu.be/H_fLOA-q1eU ) Durasi video yang ditayangkan adalah 6 menit 40 detik. Sesuai dengan kriteria video Pecha Kucha. Point 10 untuk videonya. Pemaparan presentasinya keren, bahasanya informatif dan mudah dipahami. Point 10 untuk presentasinya. 2. Tumbuh Berfitrah ( https://youtu.be/VWMm6Q2h_-8 ) 6 menit 37 detik, jumlah durasi video yang ditayangkan. Hingga pointnya 8. Presentasinya ramah anak banget sesuai dengan projectnya. Point untuk presentasinya 10. 3. Ruang Cahaya Ibu ( https://youtu.be/lnNlXoeTgPM ) Dengan durasi video 6 menit 51 detik, video ini mendapat point 8. Project berfokus pada agar Ibu menjadi Cahaya. Dengan pemaparan yang runut dan jelas, presentasinya saya beri point 10. 4. First Teacher ( https://youtu.be/aPbyLqGUrck ) Durasi video 6 menit 41 detik, hingga pointnya adalah 8. Project ini menitikberatkan pada Ibu sebagai guru. Presentasi yang disampaikan saya beri point 10. 5. Macan Kekar ( https://youtu.be/vQqfX_6qZ...